About Us:
A Blues Rock band comes from Jakarta,
Indonesia. A country divided plural of
a variety of tribal culture in this
country. Also the entry of foreign
cultures in the context of blues and
rock music. Inspired by classic rock
bands are very free in its expression,
making us more and would love the
blues and rock music.
A lack moment that make us form. When
a campus event, a group of young
people who say that late also, if
young, a few bottles of cheap liquor,
marijuana, green grassy yard and a
nail in the days when farmers in 2000,
and here we are
Bermula dari ketidaksengajaan yang membuat band
ini terbentuk. Pada Hari Tani di tahun 2000,
ketika sebuah event kampus Universitas Nasional,
sekumpulan mahasiswa yang telat jika dibilang muda
sedang asik berkumpul di halaman; nongkrong
beralaskan rerumputan. Hanya bermodalkan keisengan
untuk bernyanyi, bermain gitar, dan ditambah
sedikit kenekatan, mereka tampil untuk pertama
kalinya menggantikan band pengisi yang batal main
di event tersebut. Ketika seorang MC bertanya soal
nama band mereka, maka dengan spontan salah
seorang dari kumpulan anak-anak yang kerap bolos
kuliah ini berteriak sambil mencabut rumput yang
sebenarnya sudah tidak lagi berwarna hijau, karena
terlalu sering diduduki oleh mereka. “Rumput Ijo!”
teriak salah satu dari mereka. Sejak itu nama band
tersebut mulai eksis mengisi panggung demi
panggung di Jakarta, Bogor, bahkan Bandung.
“Waktu itu ada band yang tiba-tiba batal main, gue
ama anak-anak lagi nongkrong trus ditawarin main
sama panitianya, ya udah, kita main,” tutur Ivan
gitaris Rumput Ijo.
Adalah Ade Irfan, Muhammad Iqbal Feluzzi, Darwis
Sasmirta, dan Sultomy yang kini dikenal sebagai
Rumput Ijo dan menjadi bagian penting komunitas
klasik rock De Banner. Secara kebetulan, Gete yang
saat ini menjadi manajer mereka merupakan pentolan
komunitas itu. Beberapa dari mereka sudah
tergabung dalam band lain sebelum akhirnya menjadi
satu dalam band ini. “Sebelum Rumput Ijo, gue
sempat gabung di band namanya cangklong, band itu
sering juga manggung kemana-mana,” jelas Darwis
sang vokalis.
Pada tahun 2005, Rumput Ijo sempat merillis mini
album secara independen bertajuk Rumah Kayu berisi
tujuh lagu yang lebih didominasi dengan irama up
beat dan beredar dari tangan ke tangan. Bagi
Rumput Ijo, berada sampai di titik ini adalah
proses pendewasaan dari sikap ugal-ugalan hingga
pencapaian-pencapaian spiritual; khususnya bagi
Darwis vokalis Rumput Ijo yang pilihannya mantap
hidup di jalur musik rock ‘n’ roll. Konsekuensinya
membuat laki-laki yang juga kerap nongkrong di
Potlot ini mengalami peristiwa yang cukup
dramatis, hingga kemudian memberi berkah, dan
membuatnya makin arif dalam menyikapi hidup. “Gue
sudah pernah liar dan melakukan hal-hal gila dalam
hidup hingga sampai di titik ini, buat gue sebuah
proses untuk lebih memaknai hidup ke arah yang
lebih baik,” Darwis menerawang.
Sikap ugal-ugalan bagi band ini tak hanya tampilan
luar. Bahkan ketika di tahun 2004, Rumput Ijo
pernah diusir dari panggung pada sebuah event
musik di Pasar Seni Ancol. “Dulu gila-gilaan lah!
Gue mabuk dipanggung, Darwis juga sempat bikin
ribut. Sampai kita pernah diusir dari atas
panggung. Entahlah, waktu itu gue merasa bebas
dalam menuangkan ekespresi gue, rock n roll, juga
spirit freedom. Dulu gue mikirnya ‘gitu. Dan kalo
ingat itu gue bisa nangis,” kata Ivan sebelum
akhirnya tertawa.
Meski pun ugal-ugalan, namun Rumput Ijo tidak
asal-asalan dalam bermusik. Perkawinan klasik
rock, psychedellic, juga british blues membuat
musik mereka pantas untuk didengarkan. Barangkali
blues rock merupakan deskripsi yang tepat untuk
menggambarkan Rumput Ijo. Aksen gitar Ivan tak
bisa lari dari blues. Belum lagi vokal Darwis yang
sejak SMA sering mengcover lagu-lagu Led Zeppelin.
Serta rerata personelnya yang banyak terpengaruh
King Crimson, The Rolling Stones, The Beatles, The
Who, Deep Purple, Jimi Hendrix bahkan Bob Dylan;
yang sangat mempengaruhi musikalitas mereka. Lirik
lagu yang juga terdengar sarat makna, isu-isu
sosial yang dibungkus dengan form musik indah nan
liar membuat Rumput Ijo berbeda bagi band-band
lain pengusung warna musik yang sama. “Gue suka
Bill Bruford (Yes, King Crimson, dll—red) selain
(drummer) band-band klasik lain kayak Bonham,
drummer Led Zeppelin,” aku Ikbal, drummer
sekaligus personel paling baru di Rumput Ijo.
Seperti kebanyakan band lain, Rumput Ijo juga
beberapa kali melakukan pergantian personel hingga
akhirnya merasa mantap berempat. Sebelum Ikbal ada
Hendro yang kemudian memutuskan berangkat ke Timur
Tengah untuk jadi TKI. Lalu ada Asep Chaplin yang
kemudian mundur.
Tommy adalah basist Rumput Ijo yang juga adik
kandung Ivan. Ia bertipe agak pendiam. Namun, hal
itu tidak berlaku ketika berada di atas panggung.
“Kalo dapat bayaran manggung, paling kita pakai
buat makan bareng-bareng atau nggak buat ongkos
bayar studio,” ungkap Tommy sambil tersenyum.
“Sekarang mah, kita main musik saja dululah,
persoalan besok bisa menghasilkan atau nggak, kita
lihat saja entar.“
Bagi Rumput Ijo bermusik dan menjadi rock & roll
tak hanya bisa dilakukan mereka yang memiliki
fasilitas materi berlimpah. Melainkan bisa
dilakukan oleh siapa saja. “Dulu kalau mau latihan
kita biasanya ngamen dulu buat bayar studio.
Kadang-kadang ngutang juga. Gue banyak tahu
kehidupan jalanan karena emang terbiasa di sana.
Jadi gue nggak sekedar ngomong sesumbar tentang
rock & roll di jalanan, isu sosial, atau apalah
kayak banyak orang. Tapi pernah nggak mereka
merasakan hal itu? Mungkin enggak,” desis Ivan.
“Kita main musik sambil bersenang-senang. Kalau
lirik lagu kita ada yang berisi tema-tema sosial
bukan karena kita mencoba mewakili para kaum kusam
atau mereka yang termarjinalkan. Gue nggak merasa
mewakili suara mereka. Tapi gue adalah bagian dari
mereka.”
Rumput Ijo tengah bersiap-siap merilis album
secara profesional yang bertajuk Ga Bisa Ditawar.
Berisi beberapa lagu lama dari mini album mereka
terdahulu. Selain lagu “Ga bisa Ditawar” sebagai
jagoan, ada “Malam Sinting”, “Kaki Berkarat”,
“Selamat Malam Jakarta”, “Hippies Ogah Pulang”,
“Berlari”, “Rumput Ijo”, “Tembak Dong!”, “Malam
Kosong”. Sembilan lagu tersebut akan menjadi album
yang rencananya akan dirilis resmi oleh Sebelas
April Record. Semoga kehadiran mereka bisa menusuk
telinga mainstream, bahwa ada banyak musik lain
yang bisa dijadikan alternatif selain lagu-lagu
yang selama ini menguasai TV dan Radio.
URGENSI Mag On Line
http://urgensi.com/home/2010/05/rock-roll-jalanan-
dan-kaum-kusam/
You are invited to join
United Artists for
FLorence Cassez, an
artistic blog in support
to Florence, unfairly
jailed since december
8.2005 in Mexico.WE NEED
YOU ALL!
She 's been claiming her
innocence for almost 6
years now!
Forence counts on you for
support.
Thank you.
UAFFC.
Nous vous invitons à
rejoindre United Artists
For Florence Cassez,page
artistique de soutien à
Florence injustement
emprisonnée depuis le 8
décembre 2005 au
Mexique.
Nous avons besoin de tous
!
Presque 6 ans qu'elle
crie son innocence !
Florence compte sur vous
.
Merci.
UAFFC.
Hello, I'm a producer in
Japan (#1 in Hip-hop and
#8 across all genre in
Japan on the ReverbNation
chart and many songs on
top of the SoundClick
charts). I post 1 monthly
new song that I mixed,
composed or arranged with
artists from all over the
world and all genre. It's
the monthly tune project!
Check it
out!_____________________
________
My Headquarter and
mailing list:
http://www.reverbnation.c
om/remidesroques
_________________________
______________
- Thank you-
Remi Desroques
http://www.wavereaderprod
.com
Ya puedes DESCARGARTE
GRATIS mi disco "Vivir
Libre" (Hip-Hop / Ragga /
Reggae) con 13 de 15
temas del disco
original.
¡¡¡ QUE LO DISFRUTES
!!!
http://www.hhdirecto.net/
maquetas/ver/reas/vivir-l
ibre/33895
Nice to meet you here.
All the best to you and
yours. Have a great time
and keep on rocking. Many
greetings from Kassel,
Germany. Love and peace
all over the world!!